Sebelum Menggunakan Framework, Saya Pernah Membuatnya Sendiri
Sebelum mengenal framework populer,
saya pernah berada di fase di mana saya ingin memahami semuanya dari bawah.
Bukan karena percaya diri berlebihan,
tapi karena saya tidak mengerti kenapa banyak hal harus dibuat serumit itu.
Saya ingin tahu:
apa yang sebenarnya dibutuhkan sebuah aplikasi agar bisa berjalan dengan rapi.
Dari situ lahirlah sesuatu yang saya beri nama Arthipesa v1.
Nama itu bukan istilah teknis.
Ia singkatan dari nama lengkap saya,
yang kemudian menjadi nama domain website pertama yang pernah saya miliki.
Saat itu, rasanya masuk akal.
Arthipesa v1 bukan framework dalam arti industri.
Ia lebih tepat disebut kumpulan keputusan.
Bagaimana routing bekerja.
Bagaimana data dipisahkan dari tampilan.
Bagaimana logika aplikasi tidak bercampur dengan presentasi.
Saya banyak terpengaruh oleh konsep PureMVC.
Bukan karena saya memahaminya secara mendalam,
tapi karena ia menawarkan sesuatu yang waktu itu saya butuhkan:
pemisahan tanggung jawab yang jelas.
Controller tidak melakukan segalanya.
Model tidak tahu bagaimana ia ditampilkan.
View tidak ikut campur urusan logika.
Semua terasa bersih—setidaknya di kepala saya.
Tentu saja, ada banyak hal yang tidak sempurna.
Dokumentasi minim.
Pengujian hampir tidak ada.
Banyak keputusan dibuat berdasarkan intuisi, bukan pengalaman.
Namun ada satu pelajaran penting yang tertanam sejak awal:
struktur tidak muncul dengan sendirinya. Ia harus dirancang.
Membuat framework sendiri membuat saya sadar betapa mahalnya setiap keputusan arsitektur.
Perubahan kecil bisa berdampak besar.
Kesalahan di awal sulit diperbaiki belakangan.
Dan yang paling penting,
saya mulai memahami bahwa framework bukan sekadar alat bantu,
melainkan konsekuensi jangka panjang.
Seiring waktu, domain itu habis masa berlakunya.
Nama yang dulu saya pilih, diambil orang lain.
Dan proyek itu berhenti.
Tidak ada drama besar di sana.
Hanya fase belajar yang selesai.
Beberapa waktu kemudian,
saya memilih nama lain untuk ruang kerja saya: buana.studio.
Nama berbeda,
tapi pelajaran yang dibawa tetap sama.
Pengalaman membuat Arthipesa v1 tidak membuat saya menolak framework lain.
Justru sebaliknya.
Ia membuat saya lebih menghargai kenapa framework seperti CodeIgniter terasa sederhana,
dan kenapa framework seperti Laravel terasa penuh aturan.
Karena saya pernah berada di sisi lain:
sisi di mana semua aturan harus dibuat sendiri.
Dan dari sanalah perjalanan belajar tentang alat, struktur, dan konteks benar-benar dimulai.